Dunia memang manis
April 30, 2008 at 1:48 am | In Islam | Leave a CommentRumah mewah, kendaraan bagus, penampilan parlente, pasangan hidup cakep dan gaya hidup modern dengan mudah ditonton oleh jutaan mata di negeri ini. Setiap hari atau setiap malam tayangan-tayangan tersebut berlomba merebut perhatian pemirsannya dalam bungkus sinetron dan teman-temannya. Banyak yang bertutur tentang kehidupan mewah yang sangat terbalik kondisinya dengan kehidupan mayoritas rakyat miskin di negeri ini. Meski ada juga yang bercerita tentang nasib orang tak berpunya seperti ”KSD”, tapi terlalu sedikit jumlahnya. Kesenjangan barat ini sangat mungkin membekaskan panas dingin di hati kerena silau dengan wah-nya dunia. Ingin seperti yang ditontonkan tapi apa daya tangan tak sampai. Namun yang lebih menghawatirkan, tontonan kemewahanitu lebih jauh membekas sikap cinta duniawi yang berlebihan. Disamping juga keinginan untuk meraih sesuatu tanpa mau susah-susah berusaha dan bekerja. Bagaimana tidak? Tontonan yang dilihat tiba-tiba saja kaya begitu saja, tanpa tahu proses awal muasalnya. Pikiran orangpun melambung tinggi sacara instan. Tak mau susah-susah menjalani suatu proses namun ingin bersegera meraih hasil. Dengan pola piker demikian orang pun tak segan untuk menempuh jalan pintas yang merugikan dunia akhirat demi meraih dunia. Hidup belum kaya tapi gaya sok kaya. Belum lagi, tampilan dan gaya yang seringkali tak selaras dengan aturan Islam.
Dunia memang tampak manis, namun ia hanya sekadar fatamorgana. Tak kekal, dan akan hilang. Kini orang begitu berbangga dengan berbanyak harta, namun lupa dengan hak harta dan dunia nan fana.
Pernah terbetik angan di pikiran ini, suatu saat tontonan yang disuguhkan di layar kaca di negeri ini menjadi sejuk, mengajak kepada kebaikan, menybarkan Aqidah yang lurus dan mendukung syariat Allah. Sehingga berjuta mata yang menyaksikan semakin cinta, takut dan berharap kepada Allah. Setiap kali layar kaca dibuka, takwa bertambah di dalam dada. Dunia menjadi kecil dihadapan mata. Kapankah itu bias terwujud? Wallahu a’lam, tentu kita hanay bias ikhtiar dan berdoa.
Belum Ada Tanggapan »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.