Bagaimana jadi programmer?

by Dityo Nurasto
Sekarang tutup buku dan tutup mata mengenai teori-teori programming.
Saya mengasumsikan kita adalah orang awam yang baru mau masuk ke dunia programmer, entah karena panggilan jiwa, sebatas obsesi atau mengais keuntungan dari membuat program.
Pada suatu ketika pada saat ini ada teman bertanya, “Bagaimana menjadi programmer?”. Pertanyaan yang bagus karena saya menganalogikan pertanyaan ini dengan “Bagaimana dan dari mana saya memulai menjadi programmer?”. Saya tidak ingin membebani dia dengan jejalan jawaban yang membuat dia mundur karena di negeri ini memang harus banyak developer untuk membangun aplikasi.
Sebenarnya, kawan. Ada dua alternatif pendekatan yang bisa kita lakukan, yaitu
• Learning By Doing (Belajar dengan mencobanya/melakukannya – nya disini adalah programing) atau otodidak
• Pergi ke tempat kursus, dan saya nggak bahas mendalam kali ini.
Kalau misalnya kita adalah orang yang suka mencoba – coba dan berjiwa nekat pilihlah otodidak. Membeli buku, menginstall sendiri development software yang kita ingin pelajari, ikuti contoh yang ada di buku tersebut dengan mengetik ulang, dan memahami bagaimana struktur dari bahasa pemograman yang ingin kita pelajari. Otodidak berarti tidak gampang menyerah, ketika ada error yang kita temukan maka kita mencari tahu melalui help file, forum, milis, atau website yang berisi tutorial – tutorial mengenai bahasa pemograman yang kita pelajari. Pada jaman ini sudah ada Dr. google, pergunakanlah dengan sebaik – baiknya karena search engine tersebut memiliki banyak link – link yang membantu kita untuk mengembangkan pengetahuan kita mengenai programming.
Buatlah program secara serampangan, tidak usah memahami dengan detail bagaimana alur program jalan dengan benar. Yang penting aplikasi pertama atau kedua kita bisa keliatan berjalan dan tidak ada error. Pasti ada rasa bangga ketika kita telah berhasil membuat aplikasi kita sendiri, puaskan kebanggaan itu karena kita pantas untuk itu.
Buka kembali source code aplikasi kita tadi, lihatlah dengan teliti, apa yang kurang dan apa yang salah dalam aplikasi kita ini?. Sekarang, kita tambahkan komentar pada aplikasi kita tadi agar kita terlatih untuk membuat dokumentasi yang baik.
Saya sendiri tidak menyarankan untuk mengoprek open source software karena terlalu kompleks bagi programmer pemula, kalau mau melakukannya silahkan saja karena tidak ada larangan untuk hal ini.
Saya selalu menekankan pelajari komponen – komponen dalam membuat program seperti kondisi, operator, keyword, tipe data, dan format dari bahasa pemograman. Kenapa? karena tidak selamanya kita akan berada dalam bahasa pemograman tersebut. Be Flexible Programmer, that would be wiser.
Pada suatu waktu kita akan menghadapi masa di mana kita harus kenal dengan hal baru seperti database programming, socket programming, device programming, web programming, dan seterusnya. Kita sudah punya bekal paling dasar dari seorang programmer, kita punya logika yang terlatih dan kita punya jiwa mau belajar lagi.
Nah, kita andaikan bahwa kita sudah menguasai suatu bahasa pemograman dan ready to go untuk membangun aplikasi yang diminta oleh orang lain. Hal yang kita lakukan pertama kali adalah membuat aplikasi gratis untuk orang yang kita kenal, review kemampuan kita di situ. Menyamakan presepsi adalah hal tersulit dibanding kita membangun aplikasi itu sendiri karena banyak hal yang bercampur aduk dalam tahap ini.
Setelah kita memahami hal ini, biasanya akan muncul jiwa manajemennya. Bagaimana supaya efisien? bagaimana supaya saya tidak mengcoding ulang? bagaimana saya bisa menyamakan persepsi. Biasanya ada orang lain yang memegang peranan dalam pembelajaran ini.
Untungnya, sobat. Ada suatu metodologi (cara, dalam bahasa manusia) yang dikenal sebagai SDLC (Software Development LifeCycle), yang terdiri dari :
• Analisa (Analysis)
• Desain (Design)
• Pengembangan (Development)
• Ujicoba (Testing)
• Implementasi (Impementation)
• Pemeliharaan (Maintenance)
Inilah tahapan – tahapan yang paling sering terjadi dalam pengembangan aplikasi. Ilmu ini hanya didapat ketika kita duduk di bangku kuliah terutama jurusan komputer, bekerja secara profesional pada perusahaan IT / perusahaan besar. Tidak adilkan? Itulah alasan mengapa pengalaman itu mahal.
Masih banyak lagi rintangan yang harus dihadapi jika kita belajar otodidak tapi jika kita mau belajar maka apa yang kita dapat akan sebanding dengan apa yang kita lakukan. Untuk menjadi programmer handal kita tidak perlu masuk ke bangku kuliah tapi untuk menjadi programmer handal dan terintegrasi kayaknya kita harus rela mengeluarkan uang atau bekerja sebagai staff developer pada suatu perusahaan.
Tenang, kalau kita hanya sebatas belajar tidak perlu loncat terlalu jauh. Yang paling penting adalah niat, usaha, dan pengembangan diri. Untuk tambahan informasi, dalam manajemen teknologi informasi ada suatu statistik yang membuat mata kita terbelak yaitu 80% proyek TI gagal. Saya berharap kita semua bisa menggeser 20% proyek yang berhasil menjadi 30% – 50%, tanamkan mindset good practice dalam membuat program.
Mudah – mudahan nggak membingungkan yah, saya sendiri sulit sekali untuk mengembalikan perasaan 12 tahun (waktu masih SMP kelas 1) yang lalu ketika mulai membuat program sendiri.
//samsonasik.wordpress.com http://www.belajarweb.id.or.id

4 thoughts on “Bagaimana jadi programmer?

  1. @adjiesoft : mangga mas,,silahkan..buat pemula dulu seperti sy yg penting itu ngerti cara menuliskan kode dan alur logika…btw,,mas adji ada link gk yg mengatakan klu #mikocok mengklaim C# untuk anak 12-14 tahun ?? sy mw tau mas..:)

Silahkan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s