Menyontek yang baik

Sedikit bagi pengalaman tentang budaya contek-mencontek antara kita selaku manusia yang terus belajar dan belajar. Terinspirasi dari artikelnya Mas Romi Satria Wahono yang katanya artikelnya dicontek oleh seorang dosen, lalu si dosen itu memuat artikel Mas Romi pada majalah atas namanya sendiri. Wah bayangkan, sampai dosen pun masih menyontek. Apa kata duniaaaa…
Untung Mas Romi baik, tidak melaporkannya pada pemerintah mengingat sekarang sudah ada aturan yang mengatur artikel-artikel karya-karya orang apapun bentuknya itu. Jadi buat kamu yang ngeBlog, artikel kamu itu dilindungi lho oleh pemerintah. Tapi tenang aja, blog ini bebas kok, silakan kamu apakan artikel Saya ini. Saya juga sudah minta izin ko” kepada artikel yang Saya ambil dari site orang lain.
Saya sekarang mau cerita tentang hari-hari Saya waktu sekolah sampai saat ini menyangkut budaya contek-menyontek. Selama SD dan SMP Saya masih sering melakukan budaya ini pada setiap Ujian. Tugas-tugas pun banyak yang Saya contek dari teman apabila sudah mentok pikiran ini. Tetapi semenjak Saya masuk SMK sampai sekarang, Saya coba menghilangkan budaya itu dari diri Saya sendiri. Setiap Ujian Saya tidak mau Ngebet, Nyontek kerjaan teman dan strategi-strategi apalah yang sifatnya curang walaupun otak ini sudah kosong. Saya kerjakan setiap soal semampu Saya, bila mentok Saya berdoa semoga jawaban asal Saya sedikit benar dan mendapat nilai walaupun sedikit. Tetapi apabila ada tugas-tugas yang benar-benar Saya tidak mengerti, Saya masih kadang-kadang menyontek. Menyonteknya yang baik. Maksudnya menyontek sambil menanyakan apa yang kita tidak mengerti sebelumnya. Intinya banyak latihan, kerjakan semampu Kita lalu Kita lihat kerjaan teman Kita (tentunya izin dahulu), kira-kira ada yang salah tidak dengan kerjaan Kita, Kita diskusikan dengan teman Kita, lalu Kita cari bersama jawaban yang benar. Nah ini yang disebut menyontek yang baik. Tapi inget yach, ini cuma di dalam tugas saja, bila pada Ujian, tidak ada yang namanya menyontek yang baik.
Inilah yang ingin Saya sampaikan kepada teman-teman khususnya teman satu kelas Saya. Sampai kapan kalian mendapat nilai yang berasal dari orang lain tapi kenyataannya kalian tak mampu mengerjakannya sedikitpun. Buat apa Kita kuliah kalau Kita masih terus begini. Mari rubah cara belajar Kita mulai sekarang ini. Biasakan menerima apa yang sudah Kita kerjakan dengan usaha Kita sendiri. Jelek karena usaha Kita sendiri dan pasti Kita malu dengan diri sendiri, lalu berusaha tuk lebih baik lagi.
Jadi ingat pesan Saya yang bernama Bapak Ferdi (Guru SMK Al-Muhadjirin Bekasi). Beliau selalu menuliskan dibawah lembar soal ujiannya “Lebih baik dapat nilai 100 dengan menyontek daripada 50 dengan jujur”. Nyeletuk abiz, mungkin beliau lelah mengatakan yang benar karena ini sudah jadi kebiasaan anak sekolah saat ini.
Terakhir dari artikel ini, jadilah diri kamu sendiri, make your live with your self.

Iklan

2 thoughts on “Menyontek yang baik

  1. setuju! nyontek gaya/cara (belajar)nya aja. tapi jawabannya jangan! kalo di bisnis, istilahnya benchmarking…

Silahkan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s