Karena yang penting adalah kejujuran dan proses kamu

Cerita sedikit tentang pengalaman saya yang kembali terulang beberapa pekan lalu mengenai pentingnya proses dan kejujuran kita saat menghadapi ujian atau tes. Ini terjadi saat Ujian Tengah Semester 3 di Universitas Komputer Indonesia mengingatkan kembali kejadian saat UAN di SMK Al-Muhadjirin.

UAN pasti menjadi momok yang mengerikan bagi beberapa pelajar termasuk saya. Maklum agak ngeri karena UAN menjadi patokan apakah pelajar itu akan lanjut ke jenjang pendidikan selanjutnya atau malah mengulang lagi dengan perasaan yang berat, mengingat biaya dan waktu yang terbuang sia-sia apabila kembali mengulang. Belum lagi rasa malu yang amat besar apabila diri kita sendiri tidak lulus UAN. Wah gak terbayang malunya seperti apa.

Itulah yang saya rasakan dulu menghadapi UAN tahun 2007. Patokan lulus atau tidaknya tergantung dengan 3 mata pelajaran yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia bermodalkan membaca dan analisis soal yang baik dengan kemampuan lain didalamnya, Matematika bermodalkan kecepatan dan ketenangan kita dalam perhitungan, hapal rumus dan terbiasa mengerjakan soal-soal latihan sedangkan Bahasa Inggris bermodalkan pengetahuan dasar Bahasa Inggris seperti Tenses, Vocab dan yang paling susah bagi saya adalah Listening.

Dari ketiga mata pelajaran tersebut, Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran yang berat bagi Saya karena proses saya untuk belajar Bahasa Inggris di SMK Muhadjirin kurang apalagi tentang Listening-nya. Kalau mendengar percakapan dengan Bahasa Inggris seperti malasnya mendengar music dangdut, aduh berat euy…

Matematika dan Bahasa Indonesia tidak terlalu berat karena proses belajar mata pelajaran tersebut sering saya dapat. Tetap saja saya tidak meremehkan mata pelajaran ini walaupun sudah terbiasa pusingnya Matematika dan konsentrasi penuhnya menjawab soal Bahasa Indonesia.

 

Sepekan sebelum UAN dimulai, proses belajar Saya semakin gila, kadang malah saya harus mengurangi tidur saya mengingat ada rumus yang belum saya hapal dan pelajari. Tiap hari nonstop mendengarkan suara-suara bahasa kulon dengan rekaman yang saya bajak dari Bapak Umar (Guru Bs. Inggris).

 

Gak terasa besok sudah akan dimulai ujian. Hari pertama adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia. Malamnya gak ada nonton TV atau muter-muter nyari bocoran seperti yang dilakukan oleh beberapa teman Saya. Tidur n tidur biar pikiran tenang saat mengerjakan soal-soal Bahasa Indonesia esok. Bangun pagi, sholat shubuh dan setelah itu gak lama ada sms dari teman Saya yang menginformasikan sekaligus menawari, bahwasannya ia mendapatkan bocoran soal dari pihak tertentu.

Di sini saya bingung n harus bagaimana. Saya sms Ibu Saya, lalu mengatakan begini dan begini. Menunggu balasan sms dari Ibu Saya yang biasanya jawaban dari keraguan hati saya selalu dijawabnya. Tapi mendapat balasannya, membuat saya bingung. Beliau mengatakan “Mamah gak ridho kamu lulus dengan bocoran itu, n mamah percaya kamu pasti bisa dengan kemampuan kamu sendiri.” Emmm… tambah berat, di satu sisi saya tidak mau mengulang kembali tapi di sisi lain orang tua sendiri tidak ridho apabila saya gunakan bocoran itu. Beliau menambahkan lagi di sms kedua “Mamah percaya proses belajar kamu selama 3 tahun ini udah maksimal, jadi kerjakanlah dengan jujur, karena yang dinilai bukan hasilnya tapi juga proses untuk mendapatkan hasil itu. Hasil hanya hadiah dari proses kamu.” Sms kedua membuat hati Saya percaya kalau saya bisa tanpa bocoran itu. Dan pikir saya, percuma saja saya sudah begadang untuk belajar hari-hari lalu kalau masih tetap mengambil bocoran itu, lagi pula Allah Maha Adil, Dia tahu siapa yang sudah maksimal usahanya.

 

Hari pertama Bahasa Indonesia dan hari kedua Matematika terasa mudah saya kerjakan soal-soal tersebut dan pada akhirnya saya menghadapi hari ketiga yaitu Bahasa Inggris, masih berat bangat menginputkan setiap kata yang terdengar dengan Bahasa Inggris, hingga akhirnya Saya pasrahkan dan serahkan semua kepada-Nya, usaha Saya cuma sampai disini.

Mendengar suara dari radio, syukur bangat karena seperti mudah saja. Percakapan tidak terlalu rumit dan Alhamdulillah tertangkap maksudnya oleh telingga Saya, hingga saya percaya mata pelajaran ini juga sukses dalam arti bisa dan yakin nilainya gak jatuh-jatuh bangat. Sampai mendapatkan berita kelulusan Saya melalui surat edaran dari pihak sekolah, Alhamdulillah lulus dan salah satu episode hidup saya sudah terlewati.

 

Yang sedih saat itu adalah beberapa teman sekelas saya tidak lulus. Asal-usul mengatakan bahwa dia mengikuti bocoran tersebut. Setelah direview n dicek pihak sekolah, bocoran yang diberikan oleh pihak tertentu hanya untuk tipe soal A, tapi teman Saya yang bertipe soal B mengikutinya dan tidak ada informasi sebelumnya mengenai perbedaan tipe soal itu setelah mendapatkanya.

Kejadian ini terulang kembali saat saya menghadapi ujian tengah semester 3, saat menghadapi ujian Organisasi Komputer yang modal utama adalah hapalan murni dengan materi yang banyak dan membingungkan karena mata kuliah ini menggunakan bahasa perkomputeran dan dosennya sendiri menggunakan slide materi dengan bahasa inggris serta menjelaskannya kurang interaktif, jadi seperti ceramah jumat, yang membuat mahasiswa menjadi mengantuk kalau tidak menyimak atau pusing gak ngerti kalau memperhatikan. Jadi serba salah.

 

Tapi bagi saya inilah kesempatan saya mencuri nilai dari teman sekelas, saat mereka malas, justru saya semakin semangat untuk bisa. Lagi pula semester ini, IP saya harus tetap diatas 3 agar bisa mengambil mata kuliah atas lagi. Akhirnya saya gila-gilaan belajarnya, sehari sebelum ujian dimulai, saya tidur hanya 4 jam, menghapal dan mengerti maksud dari tiap bab, kopi menjadi senjata sampingan saya.

 

Paginya, badan pegel kurang tidur, gak lama teman sekelas datang. Dia mengasih selembar kertas yang berisi tentang soal-soal yang nanti akan keluar, yang ia dapat dari kelas lain. Melihat dan mendengar perkataan teman saya, badan semakin lemas, pengen ambruk, tidur ajalah, cape. Saya bilang ke teman saya, “sok we…gw males, cape…gw udah belajar semaleman tapi eh ada bocoran..makan sendiri aje tuch…”

Sampai di kelas, hampir semua teman menuliskan jawaban dari bocoran tersebut. Saya semakin malas untuk masuk melihat ketidakadilan, saya udah cape dan kurang tidur sedangkan teman lain, nyantai-nyantai aja dengan bocorannya. Gak adil bangat…

 

Ujian dimulai, Alhamdulillah yang saya baca dan saya pahami semalam ada beberapa yang keluar. Syukur jadi gak jatuh-jatuh bangat nilainya, minimal nilainya standarlah daripada nilai kecil dengan bocoran..hehehe. Jadi teringat Bpk. Ferdi (Guru Komputer SMK) yang selalu menyisipkan kalimat “Lebih baik dapat nilai besar dari pada nilai kecil bukan hasil sendiri” di setiap lembar soal ujiannya.

Keluar kelas, mengobrol dengan teman. Saya kaget, katanya bocoran yang didapat ngaco, gak ada yang sesuai dengan yang sekarang. Waduh, kacian, untung saya gak ikut-ikutan. Jadi ingat kejadian yang di atas.

 

Dari kejadian itu saya semakin percaya bahwa benar yang dikatakan oleh Ibu Saya, “ yang dinilai bukan hasil tetapi prosesnya, hasil hanya hadiah dari proses itu sendiri .“ dan betapa pentingnya kejujuran dalam kehidupan ini. Kejujuran mendekatkan kepada kebaikan dan kebohongan mendekatkan pada keburukan. Jadi kita yang pilih, kejujuran atau ketidakjujuran???

 

Yang pasti, buat kamu yang akan menghadapi ujian, percaya aja sama kemampuan diri kamu sendiri. Prosesnya kamu maksimalin, terus jangan lupa berdoa dan bila udah, serahkan dech semuanya sama Dia. Insya Allah mendapatkan yang kamu mau. Allah Maha Adil, memberikan sesuatu yang ngepas bangat sama kita. Trust that…

 

Moga bermanfaat…

Iklan

Silahkan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s