20 tahun hidup….

Tidak kerasa sudah 20 tahun hidup di dunia, masalah tiap masalah timbul, senang, duka, sakit hati dan berbagai rasa banyak saya alami sebagai warna kehidupan yang fana. Banyak sekali keinginan dan impian yang masih menjadi tujuan tiap langkahku, kebiasaan buruk pada diri yang belum sempat difermak, hutang atau kesalahanku pada orang lain yang belum saya lunasi dan banyak lagi impian anak muda yang kadang pikirannya masih rentan ini.

Ketidakkonsistenan hati dan prinsip menjadi hal yang kadang muncul pada hati tiap anak muda. Kadang lagi on kadang lagi off, kadang suka kadang duka, kadang waras kadang gila, semua itu pernah saya rasakan.

Berusaha memperbaiki diri tiap waktu ke waktu untuk menjadi pribadi yang baik menurut agama bukan menjadi pribadi yang baik menurut orang karena kebenaran hanya 100% milik-Nya, dan kebenaran orang satu belum tentu kebenaran menurut orang yang lain. Namun menerima saran dan kritik dari orang tetap dibutuhkan karena mungkin mereka telah berpengalaman. Tinggal bagaimana kita sendiri menerima dan mengolah masukan tersebut.

Orang bilang semakin tambah umur, semakin dewasa. Lalu apakah arti kata “dewasa”? Hampir semua orang mendefinisikan kata “dewasa” berbeda-beda namun kuantitas jawabanya ada pula yang sama. Ada yang bilang dewasa itu bisa membedakan mana yang baik dan mana yang salah, seperti dalam agama islam, seseorang sudah dikatakan terkena beban ibadah apabila orang tersebut dewasa/baligh. Lalu apakah orang yang melakukan kesalahan dikatakan belum dewasa walaupun berumur 20 tahun keatas?? Saya rasa makna definisi kata “dewasa” diatas masih belum pas mengingat dewasa bukan hanya didefinisikan dari segi fisik (badan) tapi juga pemikiran orang tersebut. Mungkin saja karena pengalaman yang mengajari seseorang untuk bertindak menjadi benar walau dahulu sempat melakukan kesalahan tersebut. Sedangkan pengalaman didapatkan dari umur yang telah Ia jalani.

Saya sempat juga sharing dengan beberapa teman tentang haruskah orang selalu dalam kebaikan. Fokus saya kepada jawaban teman yang memaknai orang yang baik biasanya cepat mati, karena berpatokan pada suatu hadist bahwa Allah mencabut ilmu bukan ilmunya tetapi orang yang berilmu itu sendiri dan biasanya, orang berilmu itu selalu baik. Jadi jangan selalu dalam kebaikan lah, sekali-kali gila (melakukan perbuatan buruk) dikit, menurut teman saya ini.

Saat itu saya hanya mengangguk-angguk saja sambil terus memikirkan konsep atau pendapat tersebut. Hingga saya berpikir, bagaimana nanti kalau kalau saat saya gila-gilaan, datang malaikat pencabut nyawa saya, sang malaikat mencabut saya dalam keadaan gila? Berat rasanya…

Lagi pula, orang yang selalu melakukan kebaikan pasti mengharapkan kematian secepatnya, mengharapkan balasan di akhirat atas apa yang telah ia lakukan di dunia. Berbeda dengan orang yang selalu gila (banyak dosa), maka Ia takut menghadapi kematian sebab takut mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Lebih baik berusaha dalam keadaan melakukan kebaikan walau kadang dosa tetap saja dilakukan, kan namanya juga manusia, tidak lepas dari dosa. Saya hanya berharap di umur ke-20 tahun ini, Allah masih memberikan saya kesempatan beribadah untuk menghapus sedikit demi sedikit dosa segunung yang saya buat, berharap malaikat pencabut nyawa mencabut saya dalam keadaan melakukan kebaikan, dan sebelum mati, saya ingin sekali membahagiakan orang-orang yang saya cintai terutama keluarga saya serta membuat suatu karya terbaik yang berguna untuk generasi setelah saya.

Semoga saja…amien..

Silahkan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s