Gak ada yang sia-sia

Beberapa pekan lalu, SMK saya mengadakan reuni. Banyak teman yang memberitahukan dan menginginkan tuk menghadiri reuni tersebut. Tapi entah kenapa saya malas mengikutinya. Kemalasan saya disetujui juga dengan datangnya penyakit kulit (alergi) saya saat hari reuni tersebut. Ya sudah bantu keluarga beres-beres saja di rumah dan belajar OOP Java.

Siangnya, setelah acara reuni selesai, teman saya, Asta, Iqbal, Hendra dan salah satu panitia reuni tersebut Hariyanto menyempatkan untuk mampir ke rumah saya. Layaknya teman lama, canda dan tawa menyelimuti kumpul bareng pada siang yang panas di Bekasi.

Satu hal dari beberapa hal penting yang saya petik dari ngumpul bareng dengan ke-4 teman saya itu adalah perkataan dari Hariyanto yang mengatakan bahwa salah satu guru pembina di SMK saya, mengatakan bahwa dirinya mengecewakan diri saya yang menolak untuk mengambil beasiswa di UGM dan malah kuliah di Bandung, tambahnya, di Bandung kuliah di Universitas Swasta lagi.

Simpel sebenarnya perkataan tersebut dikatakan oleh Hariyanto, namun nyangkut ke hati saya beberapa pekan ke depan, mengingat apa yang telah saya jalani di Bandung selama kurang lebih 2 tahun ini.

Lalu, sabtu kemarin 25 Juli 2009, saya di telpon oleh Sugeng, teman dekat rumah yang mengajak untuk mengikuti acara open house Nurul Fikri, salah satu lembaga komputer pendidikan profesi yang sempat saya gebet dahulu selain UNIKOM, Polban, UAI (Universitas Al-Azhar Indonesia Jakarta), dan Praktek Kerja di Siemens serta di Brighestone sebelum akhirnya teken kontrak di UNIKOM.

Lanjutnya, Sugeng mengajak saya ke salah satu cabang Nurul Fikri cabang Bekasi. Saya langsung mengiyakan ajakannya dengan niat ingin mengetahui Nurul Fikri lebih dekat, berharap ada inspirasi dan tambahan ilmu dalam acara tersebut. Sampai disana, melihat dan memandangi gedung Nurul Fikri cabang di Bekasi, bukannya merendahkan tapi salut buat Lembaga yang baru berkembang, salut saya lagi adalah Linux cuy,,,OpenSource,,anything about Windows, kelaut aje…walaupun laptop n komputer saya masih gak bisa standalone memakai Linux..hehhee

Masuk dan bertanya ke front tamu, ternyata acara diundur dan akan diadakan sekitar tanggal 20 Agustus. Gak lama kami langsung niat tuk kembali pulang. Diperjalanan pulang, kami melewati kampus tempat dimana sugeng kuliah D3-nya yaitu kampus Bani Saleh, salah satu kampus IT terbaik di daerah Bekasi setelah UG (Universitas Gunadarma), menurut saya.

Saya meminta Sugeng untuk mampir melihat-lihat kampusnya. Jalan-jalan sampai ke lantai 3 Gedung A dan masuk ke perpustakaan yang ada di Gedung B, melihat-lihat dan memperhatikan kondisi dan lingkungannya. Sugeng juga menceritakan baik dan buruknya kampus ini sehingga pikiran saya bertanya pada diri sendiri “kenapa dulu gak kuliah disini saja, murah, bagus dan yang pasti deket dengan keluarga�.

Masih memikirkan pikiran itu, sugeng menanyakan kemana lagi kita jalan-jalan. Saya langsung mengusulkan untuk melihat kampus Universitas Gunadarma di daerah Kalimalang. Sampai di kampus UG, melihat kondisi dan lingkungan kampus UG yang tidak jauh beda dengan UNIKOM, pikiran saya semakin tambah terbelit. Gak lama di UG, kami langsung mencari tempat neduh yang adem dan banyak ilmunya yaitu ke Gramedia tepatnya di Mall Bekasi.

Emang gak niat beli buku karena pasti harganya mahal-malal, berbeda jauh banget dengan harga buku yang biasa saya beli di daerah Palasari Bandung. Di Gramedia, kami banyak mengobrol tentang tema buku yang kami lihat bersama dan mendiskusikannya (baik isi dan harganya,,hhehe). Dan di sela obrolan kami di Gramedia itu, Sugeng mengatakan kalimat yang memiliki makna sama dengan perkataan Guru Pembina saya di SMK. Sugeng mengatakan “kenapa kuliah jauh-jauh Man, kalo Universitas Negeri ya wajar aja kalo ngerantau jauh, tapi kalo swasta, mending di sini aja�, kurang lebih Sugeng mengatakan seperti itu.

Terdiam, dan hanya bisa diam sambil memikirkan kembali makna kalimat tersebut dengan penuh pertanyaan. Tidak lama, Kami lalu langsung untuk kembali ke rumah masing-masing, setelah lelah berkeliling dengan cuaca Bekasi yang panas.

Sesampai dirumah, mandi biar seger dan memikirkan kembali pikiran itu. Hingga hati ini tenang setelah sholat Ashar, berdoa moga tiap apa yang telah dan yang akan saya lakukan bernilai kebaikan untuk hidup dan mati saya.

Tidak ada kata sesal dan sia-sia di hati ini, semua sudah diatur oleh-Nya. Tiap langkah kaki yang saya langkahkan untuk melakukan sesuatu telah diketahui-Nya bahkan Allah mengetahui sebelum saya memikirkan untuk melangkahkan kaki ini. Saya juga yakin dengan iman yang saya punya bahwa Allah memberikan hal yang terbaik buat ciptaannya, tidak pernah ada pencipta sesuatu memberikan sesuatu yang jelek kepada ciptaannya. Kini saya tinggal menjalaninya dengan penuh sabar dan ikhlas menerima semua, menjalani yang terbaik dengan kemampuan yang telah Allah berikan pula.

Terimakasih ya Allah, Kau masih memberikanku kesempatan untuk bernafas dan beribadah kepada-Mu. Syukurku pun tak luput ku ucapkan . . .

Iklan

One thought on “Gak ada yang sia-sia

Silahkan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s