Zainab Binti Khuzaimah, Ibunda Rakyat Miskin

Diantara para istri Nabi, nama Zainab binti Khuzaimah bukanlah nama yang terkenal. Pasalnya, beliau hanya menikmati kebersamaan bersama Nabi dalam rentang waktu yang sangat pendek. Hanya beberapa bulan, tidak sampai setengah tahun. Setelah suaminya, Abdullah bin Jahsy, gugur di Medan Uhud, Rasulullah menyuntingnya pada 4 H. Dengah mahar 400 dirham, sahlah pernikahan mulia itu. Pada saat itu, istri Rasulullah adalah Aisyah dan Hafshah, putri dua sahabat beliau.

Yang mengherankan, kehadirannya sebagai orang kesekian dalam rumah tangga itu tidak membuat dua istri Rasullulah sebelumnya cemburu. Kerendahan hati Zainab dan ketidak-inginannya bersaing dengan istri Rasulullah sebelumnya membuat segalanya menjadi tenang. Beliau senantiasa mengisi waktunya dengan shalat dan beribadah dan tentunya sedekah.

“Bakatnya” menjadi seorang dermawan semakin terasah demi melihat budi pekerti Nabi yang jauh lebih dermawan. Rasa sayang Zainab bintu Khuzaimah kepada kaum fakir miskin semakin menguat. Bagaimana tidak, setiap saat ia menyaksikan kasih sayang yang memancar deras dari hati Rasulullah, beliau selalu menekankan kepada segenap kaum muslimin agar bershodaqah kepada orang-orang miskin hingga mencapai tahap itsar (mendahulukan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan sendiri).

Disebut sebagai Ibunda rakyat miskin atau ummul masakin, bukan lain karena beliau sangat penyantun terhadap orang miskin. Sifat welas asih dan dermawan serta kebiasaan menyantuni fakir miskin sudah ada bahkan sejak sebelum masuk islam. Setelah islam menyinari hatinya, jiwa penyantunnya semakin bersinar. Ditambah lagi, di saat awal-awal islam, rata-rata yang masuk adalah kalangan bawah dari strata sosial. Hal ini membuat beliau semakin bersemangat memberi segala yang beliau miliki.

Namun, beliau taik biasa berlama-lama merasakan kebahagian rumah tangga Nabi. Allah memanggilnya hanya beberapa bulan setelah pernikahan mulai itu. Rasulullah teramat sedih dengan wafatnya Zainab. Ada kemiripan yang dimiliki Zainab dengan Khadijah. Pertemuan ini demikian singkat sehingga Imam adz-Dzahabi menyatakan, bahkan beliau tak sempat meriwayatkan satu hadits pun dari Nabi. Beliau adalah istri Rasulullah yang meninggal di Madinah untuk pertamakalinya. Rasulullah menguburkannya di Baqi’.

Ya, kebersamaan beliau dengan Nabi sebagai istri memang sebentar. Akan tetapi kebersamaan beliau dengan Islam sudah sangat lama. Beliau termasuk as sabiqunal awalun, yang pertama kali masuk islam. Kelompok pelopor dakwah islam yang dipuji Allah dalam firman-Nya :

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (At-Taubah : 100)

Dua gelar paling mulia untuk wanita di dunia didapatkannya. Ummul Masakin, Ibunda orang-orang miskin. Sebuah gelar yang menyiratkan kasih sayang seorang ibu kepada golongan lemah. Gelar yang melambangkan kedermawanan yang tulus. Karena tidak mungkin gelar itu didapatkan oleh orang yang tendensius dalam berderma. Karena bagaimanapun udang dibalik batu dalam amal, suatu saat akan ketahuan juga.

Sejarah memang tidak banyak membawa episode-episode indah dari kehidupan Zainab. Tapi, meski hanya tercantum nama dan sedikit perhal tentangnya, kemuliaan dan keharuman namanya sudah cukup membuat kita, umat setelahnya takjub.

Begitulah pelopor wanita dalam berderma. Semangat inilah yang bisa kita warisi dari beliau dan juga bekal motivasi dari Rasulullah :

“Tidaklah seorang hamba memasuki waktu pagi pada setiap harinya, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya memohon: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi dermawan yang menyedekahkan hartanya.’ Dan satu lagi memohon: ‘Ya Allah, musnakanlah harta si bakhil.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Perbuatan-perbuatan baik menjaga seseorang dari dampak-dampak yang buruk, penyakit-penyakit dan kebinasaan-kebinasaan. Orang yang suka berbuat baik di dunia juga akan menjadi orang yang suka berbuat baik di akhirat.” (HR.Hakim, di shahihkan al Albani)

(dinukil dan diringkas dari Tarajim Sayyidaat Bait an nubuwwah, dan 35 Shirah Shahabiyah/terjemahan kitab Shahabiyat Haula ar Rasul)

Ditulis ulang dari majalah Ar-Risalah Vol.XI No.6 Desember 2011

Semoga kita dimudahkan untuk menjadi hamba yang bersedekah dan dekat dengan orang fakir. Dijauhkan dari kesombongan dan kebakhilan harta dan jabatan.

Iklan

One thought on “Zainab Binti Khuzaimah, Ibunda Rakyat Miskin

  1. subhanallah,, kedermawanannya membuat “iri” kita semua, karena tidak semua manusia baik itu laki2 ataupun perempuan memiliki sifat dermawan yang luar biasa seperti beliau,, sungguh sifat yang patut kita contoh,,

    semoga kisah ini menjadi bahan intropeksi diri dan membuat kita menjadi lebih dermawan lagi… amiin 🙂

Silahkan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s