Surat elektronik seorang perempuan kepada Ayah

Satu surat elektronik dari seorang anak perempuan tentang bapak-nya.

Kupastikan aku memang jarang bertemu ayah dibanding ibu lantaran ayah bekerja di luar rumah. Dan pulang ketika kami sama-sama letih untuk berbicara satu sama lainnya. Tapi aku percaya, mungkin ibu yang lebih kerap menelepon untuk menanyakan keadaanku setiap hari tapi aku tahu, ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku.

Semasa kecil, ibukulah yang lebih sering menggendongku, tapi aku tahu, ketika Ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih, ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian. Walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena saking letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku. Ku tahu, ia kecup keningku dalam tidurku.

Saat aku demam ayah membentak “sudah diberitahu jangan minum Es”, lantas aku merengkut, menjauhi ayahku dan menangis di depan ibu. Tapi aku tahu, ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

Ketika remaja aku meminta keluar malam, ayah dengan tegas berkata tidak boleh, sadar, ayahku hanya ingin menjagaku, karena beliau lebih tahu apa yang ada di luar, karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga.
Saat aku sudah dipercaya oleh-nya Ayah pun melontarkan peraturannya. Maka aku kadang melonggarkan kepercayaannya. Ayahlah yang setia menunggu di ruang tamu, dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu mengontak beberapa temanku untuk menanyakan keadaanku, “Dimana dan sedang apa di luar?”.

Setelah dewasa walau ibu yang mengantarku ke sekolah untuk belajar tapi aku tahu ayahku yang berkata “Bu, temani anakmu, aku yang mencari nafkah untuk kita bersama”.

Disaat aku merengek memerlukan ini itu, untuk keperluan kuliahku, Ayah hanya mengerutkan dahi tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, “Kemana aku harus mencari uang tambahan, padahal gajiku paspas-an, dan sudah tak ada tempat lagi untuk meminjam”.

Saat aku berjaya, dia adalah orang pertama yang berdiri dan tepuk tangan untukku, ayahlah yang mengabari sanak sodara “Anakku sudah sukses”.

Dalam sujudnya, ayah juga tidak kalah dengan doa ibu, Cuma bedanya ayah simpan doa itu di dalam hatinya.

Sampai ketika aku menemukan jodohku, ayahku sangat berhati-hati mengizinkannya. Dan akhirnya saat ayah duduk melihatku diatas pelaminan bersama pasanganku, ayahpun tersenyum bahagia. Lantas aku menengok, ayah sempat pergi kebelakang dan menangis, ayah menangis karena sangat bahagia dan beliau berdoa, “Ya Tuhan, tugasku telah selesai dengan baik, bahagiakanlah putra-putri kecilku yang manis bersama pasangannya”.

Ku akhiri tulisanku dengan sebuah bait lagu.
“Untuk Ayah tercinta, aku ingin bernyanyi, dengan air mata di pipiku. Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa, walau hanya dalam mimpi”.


Surat elektronik ini saya dapet dari acara ILK 26 Juni 2014 sesi terakhir, yang gak sengaja saya ganti channel karena hendak menunggu pertandingan piala dunia Jerman vs AS dan Portugal vs Ghana.
Video nya bisa dicari di youtube dengan keyword “ILK 26 Juni 2014”.

Semangat seorang ayah untuk menjadikan anaknya sukses dunia akhirat, sholeh sholehah.

3 thoughts on “Surat elektronik seorang perempuan kepada Ayah

Silahkan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s