Ada Apa Dengan Berjabat Tangan Bersalaman Setelah Sholat

Kebiasaan yang terjadi di masyarakat adalah berjabat tangan bersalaman setelah sholat berjama’ah. Bersalaman ini pun tiap daerah berbeda-beda. Ada yang berbaris untuk saling berjabat tangan bersalaman setelah sholat dan dzikir bersama, ada pula yang setelah salam kanan dan kiri langsung bersalaman.

Pengalaman tidak enak terjadi pada saya ketika di daerah tempat saya lahir, mereka yang selesai sholat berjama’ah saling berjabat tangan bersalaman dengan berbaris. Saat itu, saya selesai sholat, dan langsung menuju pintu keluar untuk tidak mengikuti bersalaman cara mereka. Sontak, saya kaget, salah satu dari mereka yang berbaris menarik baju saya dan mengatakan “Salaman dulu lah, emang salah ya?”. Saya hanya senyum saja, dan lantas melanjutkan untuk keluar tidak mengikuti bersalaman mereka.

Hadist bersalaman ketika bertemu
Saya berpikiran, bersalaman itu adalah sunnah dan salah satu bentuk ibadah kita dan hubungan kita dengan sesama. Ketika bertemu, saya usahakan untuk berjabat tangan dan bersalaman karena memang ada hadits yang menjelaskan hal tersebut secara tepat.

“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu mereka bersalaman melainkan Allah ampuni mereka berdua sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Daud No. 5212, At Tirmidzi No. 2727, Ibnu Majah No. 3703, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam berbagai kitabnya, Al Misykah Al Mashabih No. 4679, Shahihul Jami’ No. 5777, dan lainnya)

Kenapa tidak ikut berjabat tangan salaman ketika selesai sholat?
Sebenarnya, salaman ketika selesai sholat tidak ada hadits yang menjelaskan tepatnya. Rasulullah hanya menganjurkan untuk dzikir selesai sholat. Bukankah ibadah sholat diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam? Bukan salam berjabat tangan, apalagi berbaris-berbaris untuk bersalaman.

Bukankah berjabat tangan salaman itu hal baik?
Bersalaman memang hal baik, namun jika dikhususkan untuk selesai sholat, yang mana orang mengira adalah salah satu ibadah setelah sholat. Maka hal itu lah yang jadi permasalahan. Ibadah, hukum asli adalah haram kecuali ada sunnah berupa dari Al-Qur’an ataupun hadits dari Rasulullah. Berbeda dengan selain ibadah, hukum asli adalah boleh, kecuali ada yang mengharamkan dari sunnah (Al-Qur’an dan Hadits). Hal baik itu relatif, jika menurut Allah dan Rasul harus ada penjelasannya. Namun, jika menurut orang lain, silahkan anda ikuti banyak orang. Kecuali anda akan mendapatkan banyak pertentangan karena tiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda.

Naif salaman ketika selesai sholat dengan salaman ketika bertemu
Kejadian yang sebaliknya terlihat. Orang lebih berat bersalaman ketika bertemu dibandingkan bersalaman ketika selesai sholat. Banyak dari teman-teman kita, berat ketika bersalaman saat bertemu. Padahal, hadits yang menjelaskan bersalaman ketika bertemu lebih tepat dibandingkan bersalaman ketika selesai sholat.

Orang-orang di daerah saya pun berat sekali ketika bertemu berjabat tangan dan bersalaman. Kenaifan itu terlihat mereka cenderung suka berjabat tangan bersalaman ketika selesai sholat dibanding dengan berjabat tangan bersalaman ketika bertemu.

Saya pernah mendengar salah satu ucapan.

“Jika ada salah satu kegiatan yang tidak ada sunnahnya dari Al-Qur’an maupun Hadits Rasulullah diwajibkan atau dibiasakan oleh masyarakat, maka kegiatan yang memang ada sunnahnya dari Al-Qur’an atau Hadits akan terkikis hilang”

Terlihat, salaman ketika bertemu kini mulai luntur karena ada kegiatan bersalaman ketika selesai sholat. Tidak hanya itu, contoh lain adalah membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at yang ada hadits-nya mulai hilang dengan gema membaca surat Yasiin yang beberapa hadits-nya pun palsu.

Bagaimana baiknya?
Ketika ditanya bagaimana baiknya? kembali ke aturan dari sunnah (Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah). Coba untuk biasakan tidak berjabat tangan bersalaman ketika selesai sholat. Jangan pernah merendahkan ataupun menyelisihi orang yang tidak berjabat tangan bersalaman ketika selesai sholat. Dan mari budayakan sunnah Rasulullah dengan tersenyum, mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan saudara semuslim ketika bertemu. Semoga kebiasaan ini baik untuk kita dan untuk generasi setelah kita (anak dan cucu kita)

Reff: http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-salam-salaman-setelah-shalat.html

6 thoughts on “Ada Apa Dengan Berjabat Tangan Bersalaman Setelah Sholat

  1. @cool: om, kalo ngikutin pendapat orang, berapa banyak pendapat orang? islam itu tegak bukan karena pendapat orang. islam tegak karena aturan yang jelas dari Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah dengan pemahaman yang pertama kali menerima islam yaitu pemahaman sahabat dan setelahnya.

    di Link http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1353541985&=bersalaman-seusai-shalat.htm, menyebutkan adanya bid’ah hasanah. apa benar bid’ah ada yg hasanah? coba tonton ini om, buang semua pendapat ustadz, dengerin haditsnya.
    1. https://www.youtube.com/watch?v=x_i67BEZHyg
    2. https://www.youtube.com/watch?v=VE_6XBh40IY

    Tulisan saya hanya menyampaikan, berjabat tangan bersalaman sudah keliru dipikiran masyarakat indonesia. Seolah-olah orang yang tidak menginginkan berjabat tangan bersalaman ketika setelah sholat itu sombong, padahal saya sendiri bukan tidak mau berjabat tangan bersalaman dengan orang, tapi apa benar itu ada aturannya? bukankah kita beribadah ada aturan? bukankah kita beribadah berharap pahala? lalu dari mana pahala itu? dari Allah tentunya. kalau tidak mengikuti aturan Allah, apa bisa pahala kita dapatkan? atau ibadah dari pendapat ustadz xxx, yyy saja? silahkan cari pahala dari ustadz tersebut.

  2. bukankah semua pendapat, baik syg saya berikan linknya maupun yg anda sampaikan adalah pendapat manusia, pendapat sekian ustaz yang juga merujuk kepada ulama salaf? tidak ada yang lebih mengetahui perkara ini kecuali para ‘ulama yang telah menelaah sekian banyak hadits lalu karena kapasitas ilmu mereka, ulama tersebut dibenarkan untuk berijtihad? jika diantara ‘ulama salaf itu terjadi ikhtilaf diantara mereka, apakah lalu dengan ilmu kita yang tidak ada apa-apanya, kita mereasa berhak untuk menyalahkan satu pendapat dan membenarkan mutlak pendapat yang lain? sejak kapan kita merasa besar untuk menjadi hakim dari para pendapat ulama terdahulu? Saya secara pribadi berkeyakinan dan memakai pendapat yang tidak bersalaman ketika sholat, tp alangkah bijaknya jika kita toleran. Ya kita toleran karena para ‘ulama besar dahulu sudah berbeda pendapat, dan diantara mereka tidak ada yg ribut seperti anak muda zaman sekarang, yg baru mengaji bbrp ayat sudah berani menyalahkan sana-sini. Lalu apakah kita mau MEMAKSAKAN KEHENDAK? Bukankah memaksakan kehendak ttg sesuatu yang masih dipersilihkan bukan ciri salafus sholeh?

    —————–
    termasuk pembagian bidah, silahkan bacalah dari banyak sumber. Kesalahan terbesar para tholabul ilmi, adalah mereka mencukupkan belajar dari para ulama atau dari kitab yang sesuai pendapatnya saja. Inilah cikal bakal ashobiyah pendapat, ini juga yang kelak bisa membuat umat menjadi saling sikat dan saling sikut…
    fa’tabiruuu
    —————

  3. @cool:

    soal bid’ah, saya kasih gak 1 link ya mas. ada 3 tuh. jika kurang, nanti bisa saya cari kembali.

    mas, saya menulis ini dengan tujuan tidak ada lagi yang mengatakan “Yang tidak salaman sombong”. berapa kali saya disudutkan dengan orang-orang bersalaman setelah sholat, ditarik baju saya padahal apa saya menarik baju mereka untuk tidak bersalaman dan berjabat tangan selesai sholat???. Lalu siapa yang memaksakan???

    Saya murni ingin menulis ini untuk mengingatkan orang-orang yang menganggap orang yang tidak ikut berjabat tangan adalah sombong. Sampai saat ini, jika ada yang berjabat tangan ketika selesai sholat dengan saya saya salami kembali dengan salam.

    Dan ingin menyampaikan juga, inget beberapa orang tidak mengatahui faidah surat AL-Kahfi daripada surat Yaasin di hari jum’at kenapa? karena mereka selalu menjunjung sesuatu yang tidak sunnah. resiko yang sudah terjadi apa sekarang?? berjabat tangan dan bersalaman berat sekali diucapkan oleh orang-orang sekarang.

    Silahkan mengatasnamakan ‘TOLERANSI’. jika menurut mas itu lebih baik. saya hanya penuntut ilmu yg miskin ilmu mencoba untuk menjelaskan sesuatu yang sunnah jelas dan shohih.

  4. tidak apa apa, dahulu ketika saya masih muda, energi dan stamina saya masih besar, bersemangat untuk totalitas menerapakan apa yg menjadi keyakinan kita. Namun sayang, stamina yg tinggi blm dibarengi ilmu yg cukup. Wajar org seperti anda atau yg semisalnya seringkali berbenturan dengan masyarakat. Setelah banyak menelaah para pendapat ulama salaf, terang benderanglah bahwa mereka pun banyak tidak sependapat dalam banyak hal. Suatu saat saya yakin, anda pasti ketika diajak salaman (bukan inisiatif), anda pasti akan menerima salaman org lain, Karena begitulah yg diajarkan oleh para ustaz yg mengaku salaf hari ini. Anda masih muda, masih banyak waktu untuk belajar,silahkan pelajari kitab2, syekh utsaimin, syekh bin baz dll dalam masalah salaman ini.

  5. @cool: saya sampai saat ini masih menerima salam dari orang setelah sholat karena ingin menghormati. seperti yang saya tulis sebelumnya, saya menulis hanya untuk memberikan penjelasan ke orang lain untuk menghormati orang yang tidak bersalaman. Terimakasih sarannya

Silahkan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s